Search
Saturday 21 October 2017
  • :
  • :

5 Kisah Konyol Wasit Sepakbola Di Dunia

Menjadi wasit sepakbola adalah pekerjaan yang sulit. Butuh ketelitian, keberanian, kesehatan, kesabaran dan kecerdasan untuk bisa menjadi wasit yang berkualitas. Jika wasit melakukan tugasnya dengan baik, seringkali ia dilupakan begitu saja. Jika sedikit saja melakukan kesalahan, maka hujan kritikan dan komentar tidak puas akan didapatnya. Seringkali wasit juga terlibat insiden yang jika diingat kembali akan terlihat lucu, sebagian lagi tragis. Berikut adalah 5 cerita konyol tentang wasit.

5. Gol Tangan Tuhan

Gol Tangan Tuhan

Gol Tangan Tuhan

Gol Diego Maradona ke gawang Peter Shilton pada Piala Dunia 1986 mendapat label gol tangan Tuhan. Penyebabnya jelas, Maradona mengarahkan bola dengan tangannya, bukan dengan kepalanya. Media Inggris menyebut bahwa semua orang yang berada di stadion menyaksikan handsball Maradona, kecuali wasit tentunya. Wasit Ali Bin Nasser asal Maroko pun menjadi bulan-bulanan di penjuru dunia akibat kesalahannya tersebut. Maradona sendiri sampai tak percaya bahwa golnya disahkan. “Tak ada rekan yang mendatangi saya untuk memeluk memberi selamat. Saya segera mengatakan kepada teman-teman: ‘cepat peluk saya, atau wasit akan menganulir gol itu’.” Secara permainan, kesalahan ini tergolong biasa; banyak kejadian wasit yang salah dalam mengesahkan atau menganulir gol. Namun yang menjadikan kesalahan ini besar adalah begitu terkenalnya gol tangan Tuhan Maradona itu. Gol itu bahkan mendapat label sebagai gol abad 20.

4. Tiga Kartu Kuning Untuk Satu Pemain

Tiga Kartu Kuning Untuk Satu Pemain

Tiga Kartu Kuning Untuk Satu Pemain

Kejadian ini mungkin masih cukup segar di ingatan kita. Pasalnya kesalahan Graham Poll ini terjadi pada Piala Dunia 2006 lalu. Ketika memimpin laga Kroasia melawan Australia, Poll memberikan kartu kuning tiga kali kepada Josip Simunic. Ia harusnya memberikan kartu merah pada kartu kuning kedua, sesuai dengan peraturan. Poll menyadari kesalahannya dan menolak untuk memimpin laga besar lagi. Wasit asal Inggris ini merasa telah melakukan kesalahan besar dan hanya mau memimpin laga-laga biasa setelah insiden itu.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

3. Wasit Datangi Ruang Ganti

Wasit Datangi Ruang Ganti

Wasit Datangi Ruang Ganti

Laga Recreativo Linense melawan Saladillo de Algeciras pada 2009 tak bisa berjalan dengan mulus. Saat babak kedua berjalan sembilan menit, seorang pemain Recreativo mendapat kartu merah dari wasit Jose Manuel Barro Escandon. Kartu merah itu memicu perkelahian besar dan pertandingan pun dihentikan. Namun wasit Barro nampaknya ingin menunjukkan kekuasaannya. Setelah tim terpisah di ruang ganti masing-masing, wasit Barro mendatangi kamar ganti masing-masing tim dan mengkartu merah sembilan pemain dari tiap tim. Artinya ada 19 kartu merah dalam laga itu.

2. Wasit Mengusir Diri Sendiri

Wasit Mengusir Diri Sendiri

Wasit Mengusir Diri Sendiri

Pertandingan Peterborough North End melawan Royal Mail AYL pada tahun 2005 menyuguhkan kejadian langka. Wasit Andy Wain mengkartu merah dirinya karena mengkonfrontasi kiper North End. Wain merasa kesal terus mendapat protes dari sang kiper. Saat kesabarannya habis, ia melempar peluitnya dan berlari mendekati kiper itu. Nyaris saja terjadi adu pukul dalam insiden itu. Setelah laga, Wain menyatakan penyesalannya. “Saya bertindak tidak profesional. Jika seorang pemain melakukan apa yang saya lakukan, saya akan mengusirnya. Jadi, saya harus harus mendapat kartu merah,” jelasnya.

1. Wasit Yang Baik Hati

Wasit Yang Baik Hati

Wasit Yang Baik Hati

Dalam pertandingan antara FC Vladslo melawan FC Wijtschate, wasit Marc Gevaert melanggar peraturan paling dasar sepakbola. Ia meniup peluit panjang ketika pertandingan baru berjalan 85 menit. Kesalahan ini dilakukan dengan sengaja oleh Gevaert. Ia mengaku merasa kasihan kepada para pemain Wijtschate sekaligus khawatir terhadap keselamatan para pemain Vladslo. Penyebabnya adalah karena Vladslo sudah unggul 16-0 dalam pertandingan itu. “Saat pertandingan berjalan satu jam dan skor 11-0, para pemain Wijtschate mendatangai saya dan memohon agar pertandingan dihentikan. Ketika hampir berakhir dan kedudukan 16-0, saya melihat mereka mulai frustrasi dan menendangi pemain Vladslo tanpa alasan. Saya kasihan kepada mereka,” urai Gevaert. Tindakan ini justru membuat para petinggi Wijtschate marah besar. Juru bicara mereka mengatakan: “Dengan beberapa menit tersisa, siapa bilang kami tak akan bisa membalikkan keadaan?”