Search
Tuesday 17 October 2017
  • :
  • :

Umar Bin Khathab Mengangkat Gandum Malam Hari

Sudah menjadi kebiasaan bagi Khalifah Umar Bin Khattab untuk berkeliling setiap malam, guna mengetahui keadaan rakyatnya. Bagi Umar, laporan dari bawahan saja tidak cukup. Dia harus memeriksa sendiri keadaan rakyatnya.

 

Pada suatu malam Umar bin Khathab, betkeliling bersama pelayannya. Pada malam itu beliau melihat sebuah rumah kecil. Dia mendengar suara tangisan dari dalam rumah itu. Ternyata kedua anaknya menangis meminta makan. Ibunya berkata ,”tenang nak ibu lagi masak, sabar ya, masakannya belum matang”. Umar menunggu sekian lama. Setelah agak lama, sambil menangis, anaknya berkata “Ibu, lapar”. Ibunyapun berkata, “Sabar nak, tunggu sebentar sampai matang”.

umar-bin-khathab

Umar pun penasaran dengan apa yang dimasak ibu itu, kenapa sudah sekian lama belum matang-matang. Akhirnya dia mencoba mengetuk pintu dan bertamu di rumah itu. Setelah dipersilahkan masuk, Umar pun bertanya, “Ibu, saya dengar anak ibu menangis kelaparan, menunggu masakan ibu. Apa yang ibu masak?” Si ibu menjawab, “Saya memasak gandum”. Setelah agak lama dia mendengar lagi suara tangisan anaknya meminta makan. Si ibu berusaha menenangkan anaknya. Umarpun makin penasaran, kenapa masakanya belum matang juga. Umar pun bertanya, “Ibu, apa yang ibu masak? Kenapa sekian lama belum matang ? Si ibu pun berkata ,”Lihat saja sendiri di sana”.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

 

Umar pun bergegas melihat sendiri apa yang dimasak. Beliau terkejut melihat apa yang dimasak si ibu. Karena ternyata yang direbus dalam panci adalah batu. Umar berkata ,”Astaghfirullah, ibu. Ibu merebus batu ?” Si ibu menjawab ,”Iya, saya merebus batu untuk menenangkan anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk direbus. Dengan merebus batu ini, anak-anakku mengira aku sedang memasak, sehingga mereka tenang dan akhirnya tertidur, sehingga mereka tidak lagi menanyakan makanan. Khalifah Umar memang pimpinan yang tidak tahu diri. Dia hanya bersenang-senang saja, lupa kalau ada rakyatnya yang masih menderita seperti ini”.

 

Mendengar kata-kata sang ibu, pelayan Umar bin Khathab ingin marah, tetapi dicegah oleh Umar. Rupanya si ibu tidak tahu kalau orang yang ada di hadapannya adalah Umar bin Khathab. Tidak berapa lama Umar minta izin pamit. Segera Umar berjalan kaki dengan cepat. Beliau langsung menuju Baitul Mal. Langsung saja Umar meminta kepada petugas baitul mal untuk diambilkan satu karung gandum. Umar meminta kepada pelayannya agar karung gandum diletakkam di punggung Umar. Pelayan pun berkata, “Tidak, aku sendiri yang harus mengangkat gandum ini. Apakah enkau ingin menanggung dosa-dosaku”. Mendengar apa yang dikatakan Umar, pelayan hanya bisa menurut saja. Akhirnya Umar sendiri yang menggendong karung gandum itu ke rumah ibu tadi.

 

Sesampainya di rumah si ibu, Umar tidak hanya menyerahkan gandum. Beliau sendiri yang memasak gandum tadi. Umar ingin melihat sampai anak-anak si ibu tersenyum karena sudah kenyang. Selesai mengerjakan itu semua, si ibu berkata, “Terima kasih tuan. Tian sangay baik sekali. Menurut saya, tuan lebih layak menjadi khalifah dibandingkan dengan Umar bin Khatab”.