Search
Saturday 25 November 2017
  • :
  • :

Khalid Bin Walid

Khalid bin WalidKhalid Bin Walid, merupakan panglima perang Islam di zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman sahabat. Khalid merupakan putra dari Walid Al mughirah, yang merupakan kabilah bani Makzum, di dalam suku Quraisy. Ayahnya merupakan orang yang kaya raya. Kebun ayahnya terbentang dari Mekah sampai Thoif.

Walid Al Mughirah merupakan orang yang sangat dermawan. Setiap musim haji, ayahnya tidak mengizinkan orang lain untuk menyalakan tungkunya. Maksudnya semua keperluan makanan para jamaah haji ditanggung oleh Walid Al Mughirah. Begitu juga dengan pergantian kiswah (kain penutup ka’bah). Biasanya kiswah diganti setiap setahun sekali. Biayanya ditanggung bersama-sama oleh kabilah Quraisy. Akan tetapi Walid Al Mughirah menggatinya setiap 2 tahun sekali dengan harta pribadinya. Artinya jika tahun ini diganti bersama-sama maka tahun berikutnya diganti oleh Walid, tahun berikutnya diganti bersama-sama, tahun berikutnya lagi diganti oleh Walid, begitu seterusnya.

Karena kehidupannya yang kaya raya maka Khalid bin Walid tumbuh berbeda dibandingkan dengan pemuda-pemuda Quraisy pada umumnya. Khalid lebih sibuk belajar berkuda memanah dan berburu. Di saat orang-orang Arab berdagang ke Syam, Khalid seringkali ikut. Akan tetapi dia ikut bukan untuk berdagang,  tetapi sampai dia belajar banyak dari orang Romawi tentang strategi perang di Syam.

Di saat Nabi Muhammad SAW mulai mendakwahkan Islam, Walid Al Mughirah termasuk orang yang sangat menentangnya. Berbeda dengan putranya Khalid bin Walid. Dia tidak begitu perduli. Dia malah sibuk berburu di padang pasir, kadang minum khamr dan berbagai kegiatan pribadinya. Dia benar-benar tidak perduli, selagi Islam tidak mengganggunya. Bagi dia Islam layak berkembang seperti ajaran yang lain, seperti misalnya Yahudi, Nasrani, Hanifiah ataupun ajaran menyembah berhala.

Akan tetapi ketika ayahnya meninggal, maka Khalid menjadi tumpuan bagi keluarganya. Ketika terjadi perang Badar Khalid juga tidak terlibat. Akan tetapi dalam perang ini banyak tokoh-tokoh kafir Quraisy yang terbunuh. Hal inilah yang menyebabkan dia terseret ikut perang tahun berikutnya, yaitu perang Uhud. Karena keahliannya yang luar biasa dalam berkuda maka dia dipercaya oleh orang-orang kafir Quraisy untuk memimpin pasukan berkuda.

Pada awal perang Uhud kaum muslimin mengalami kemenangan. Akan tetapi ketika kemenangan sudah didapat, para pemanah di atas bukit tidak mentaati perintah Rasulullah SAW. Sebelumnya Rasulullah memerintahkan agar para pemanah tidak turun dari bukit apapun yang terjadi, kecuali jika Rasulullah sendiri sudah memerintahkan untuk turun. Akan tetapi para pamanah ini tidak mentaati Rasulullah karena tergoda harta rampasan perang. Otomatis pemanah di atas bukit hanya tinggal beberapa orang saja.

Melihat bukit kosong, Khalid dan pasukannya mengendarai kuda memutari bukit. Para pemanah yang tertinggal di atas bukit tidak bisa berbuat apa-apa karena jumlah mereka sangatlah sedikit. Pasukan kuda yang dipimpin Khalid menyerang kaum muslimin dari arah belakang, sehingga banyak kaum muslimin yang terbunuh. Inilah penyebab kekalahan kaum muslimin di perang Uhud.

Pada tahun berikutnya terjadi perang Al Ahzab. Al Ahzab artinya gabungan. Orang-orang Kafir Quraisy bergabung dengan para sekutu-sekutunya yang termasuk orang orang Nasrani dan Yahudi berjumlah 24.000 orang melawan kaum muslimin di Madinah yang berjumlah hanya 3.000 orang.

Dengan kondisi yang tidak seimbang ini  maka Rasulullah memutuskan untuk membuat parit sesuai usulan dari Salman Al Farisi. Sisi utara, timur dan barat kota madinah dikelilingi oleh pebukitan yang terjal, sehingga satu-satunya akses masuk ke kota Madinah adalah bagian selatan. Akses masuk kota Madinah inilah yang dibangun parit. Parit yang dibuat cukup lebar sehingga kuda tidak bisa lompat. Parit juga dibuat cukup dalam sehingga jika kuda terjatuh maka tidak bisa lompat keluar.

Katika pasukan Al Ahzab ini mendekati Madinah mereka sangat terkejut melihat parit itu. Strategi seperti ini tidak pernah dipakai oleh bangsa Arab sebelumnya. Khalid yang memang ahli strategi tidak bisa berbuat apa-apa. Khalid bin Walid bisa dikatakan sebagai Ahli strategi perang nomor 2 setelah Rasulullah. Perang Al Ahzab ini seringkali diberi nama perang Khandaq atau parit. Akhirnya pasukan Quraisy dan gabungannya hanya bisa mendirikan kemah di luar kota Madinah.

Khalid sebenarnya sudah menaruh simpati terhadap Islam. Karena itulah diam-diam pada malah hari khalid mendekati kaum muslimin, sehingga dia bisa berkomunikasi dengan Abu Ubaidah. Khalid mengirimkan pesan melalui panah kepada Abu Ubaidah supaya memberitahukan kepada teman-temannya bahwasanya Kaum Yahudi di dalam kota Madinah juga berkhianat.

Selama hampir sebulan dalam perang khandaq ini boleh dikatakan hampir tidak terjadi perang. Akhirnya Allah mengirimkan angin kencang yang menyapu bersih pasukan kafir Quraisy beserta sekutu-sekutunya. Keadaan ini memaksa mereka kalah telak dibandingkan kaum muslimin. Kaum muslimin memperoleh kemanangan secara mutlak. Hal inilah yang menyebabkan posisi kafir Quraisy semakin lemah. Akhirnya pasukan kafir Quraisy pulang ke Mekah.

Your ads will be inserted here by

Easy Plugin for AdSense.

Please go to the plugin admin page to
Paste your ad code OR
Suppress this ad slot.

Setelah beberapa lama di Mekah, Khalid bin Walid merasa bahwa orang muslimin selalu dibela oleh Allah SWT. Akhirnya Khalid bertekat menuju Madinah untuk bergabung dengan Islam. Sebelum berangkat, Khalid menuju ke ka’bah. Dia berkata kepada Hubal (salah satu patung yang disembah orang kafir). “Hubal, aku mau bertemu dengan Muhammad. Jika engkau mampu halangi aku”.

Ketika dalam perjalanan menuju Madinah dia bertemu dengan Amru bin Ash. Ternyata mereka berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu ke Madinah untuk memeluk Islam. Ketika mereka sudah berikrar syahadat maka Rasulullah bersabda ,”Mekah telah mengirimkan putra terbaiknya”.  Kalid mendapat julukan dari Rasulullah, yaitu Syaifullah, artinya pedang Allah yang terhunus. Meskipun Khalid memiliki keahlian strategi perang yang luar biasa, Rasulullah tidak langsung mengangkat dia sebagai komandan perang. Sebagai orang baru dalam Islam, Khalid harus mendapat banyak didikan dalam Islam.

Katika Rasulullah mengirim utusan ke salah satu negara bagian Romawi, ternyata utusan tersebut dibunuh. Karena itulah Rasulullah mengirimkan pasukan untuk menyerang daerah tersebut. Pasukan yang dikirim sebanyak 3000 dengan pimpinan pasukan adalah Zaid bin Haritsah. Rasulullah bersabda, “Jika Zaid bin Haritsah mati syahid maka pimpinan digantikan oleh Jakfar bin Abi Thalib. Jika Jakfar bin Abi Thalib mati syahid maka pimpinan diganti oleh Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah bin Rawahah mati syahid maka hendaknya kalian bermusyawarah”.

Pasukan Romawi yang berjumlah 100.000 orang  bukanlah lawan yang ringan. Akibatnya ketiga pimpinan tersebut mati syahid. Di saat itulah terjadi perdebatan siapa yang harus memimpin. Akhirnya Khalid bin Walid yang diminta memimpin pasukan. Pada awalnya Khalid bin Walid menolak untuk memimpin pasukan dengan alasan dia masih baru masuk Islam. Akan tetapi karena keadaan mendesak Khalid bersedia memimpin.

Dengan strategi yang jitu Khalid membagi pasukan menjadi beberapa bagian. Bagian sayap kiri jika sudah membunuh orang pindah ke kanan. Begitu juga sebaliknya. Bagian depan jika sudah membunuh orang mundur ke belakang digantikan oleh bagian belakang. Sementara itu bagian paling belakang ada yang ditugasi melempar-lempar pasir ke udara sehingga seolah-olah ada bala bantuan baru yang datang. Dengan pembagian ini jumlah kaum muslimin yang berperang kelihatan sangat banyak. Dengan strategi ini akhirnya Pasukan Romawi mundur.  Rasulullah mendapatkan berita kemenangan Khalid bin Walid ini dari malaikat Jibril. Rasulullah mengumumkan kemenangan pasukan ini, sehingga ketika Khalid sampai di Madinah dia langsung mendapat sambutan dari kaum Muslimin yang berada di Madinah.

Ketika penaklukan kota Mekah, tentara muslim dibagi menjadi 4 bagian. Khalid memimpin satu bagian yang memasuki Mekah dari arah selatan. Pasukan yang dipimpin Khalid ini adalah satu-satunya pasukan yang mendapat perlawanan. Ketika perang Hunain Khalid terjatuh dari kuda karena terkena anak panah. Orang-orang kafir mengira Khalid sudah meninggal dunia. Akan tetapi Khalid hanya terluka saja.

Setelah Rasulullah wafat, pimpinan  muslimin dipegang oleh Abu Bakar As Sidiq. Pada masa Abu bakar ini karir Khalid semakin cemerlang. Khalid ditugaskan memimpin pasukan yang bertugas memberantas kaum Murtad yang diakibatkan oleh adanya nabi-nabi palsu. Banyak nabi-nabi palsu bermunculan ketika Rasulullah wafat. Bahkan sebelum Rasulullah wafat mereka juga sudah mendeklarasikan dirinya sebagai nabi. Tujuan mereka adalah untuk memperoleh kekuasaan. Ketika Rasulullah wafat, kedudukan mereka semakin kuat. Karena itulah Abu Bakar memerintahkan agar mereka diperangi. Mereka itu di antaranya adalah Thulaihah Al Ashadi, Sajah dan musailamah Al Kadhab. Ketika pasukan muslimin yang menyerang pasukan Musailamah Al Khadhab di Yamamah mengalami kesulitan maka Abu Bakar memerintahkan pasukan Khalid bin Walid untuk bergabung, sehingga diperoleh kemenangan hingga terbunuhnya Musailamah.

Setelah berhasil menumpas para nabi palsu Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk Menyerang kerajaan bagian Persia yang berada dikawasan Hira, Iraq. Dari sini Khalid memperoleh kemenangan yang gemilang. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk membawa pasukannya ke Syam untuk bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah bin Jarrah. Pasukan yang tergabung mencapai 45.000 orang dan pimpinan utama adalah Khalid bin Walid. Jumlah pasukan Romawi saat itu mencapai 240.000 orang. Mereka bertemu di lembah Yarmuk, sehingga perang ini dikenal dengan nama perang Yarmuk. Pada saat itu ada salah satu komandan Romawi yang bernama Gregorius yang menemui Khalid bin Walid. Dia banyak bertanya tentang Islam kepada Khalid. Dengan penjelasan yang baik dari Khalid akhirnya Gregorius masuk Islam.

Di tengah pertempuran Yarmuk ini Abu Ubaidah menerima surat dari Madinah yang menyatakan bahwa Khalifah Abu Bakar As Sidiq wafat dan digantikan oleh Umar bin Khattab. Berita ini tidak disebarkan oleh Abu Ubaidah agar mental kaum muslimin tidak jatuh. Bahkan Khalid bin Walid juga tidak diberitahu agar Kalid tetap konsentrasi memimpin pasukan. Abu Ubaidah memberitahukan hal ini setelah kaum muslimin memenangkan pertempuran Yarmuk. Pertempuran yang sangat mengubah sejarah ini dimenangkan mutlak oleh kaum muslimin.

Orang-orang sangat bangga dengan peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Di manapun Khalid memimpin perang, di situ diperoleh kemangan. Kondisi ini justru membuat Umar bin Khattab khawatir. Akhirnya Khalifah Umar memberhentikan Khalid bin Walid dari pimpinan pasukan dan digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Umar khawatir kaum muslimin terlalu memuja Khalid sehingga melupakan kebesaran Allah.  Walaupun Khalid sudah diberhentikan dari pimpinan dia tetap ikut berjihad. “Aku bukan berperang untuk Umar, tapi aku berperang untuk Allah”.

Ketika kaum muslimin menaklukan benteng Damaskus, Khalid masih memimpin salah satu bagian pasukan. Pimpinan utama tetap Abu Ubaidah. Pertempuran ini sangat berat bagi kaum muslimin, mengingat saat itu lagi musim dingin. Orang-orang Arab yang biasanya merasakan udara panas saat itu benar-benar mengalami ujian yang luar biasa. Pasukan Romawi yang ada di Damaskus berpikir bahwa kaum muslimin pasti tidak akan mampu bertahan karena suhu udara sangat dingin. Padahal kaum muslimin membawa kebesaran Allah, sehingga mereka tetap bisa bertahan dengan suhu yang ekstrim seperti itu. Setelah 2 bulan mengepung benteng Damaskus, akhirnya benteng itu berhasil dikuasai.

Khalid bin Walid mempunyai cita-cita untuk bisa mati syahid dalam berjihad. Sayangnya cita-cita itu tidak tercapai. Khalid meninggal di rumahnya di kota Hom, 50 km sebelah utara kota Damaskus pada tahun 21 Hijriah. Umar bin Khattab menyesal karena belum mengangkat Khalid lagi sebagai pimpinan pasukan. Ketika Khalid meninggal, banyak perempuan Bani Makzum yang menangisi kepergiannya. Biasanya ketika ada orang yang meninggal, Umar melarang untuk menangisinya. Akan tetapi ketika Khalid meninggal, Umar tidak melarang orang-orang untuk menagisinya. “Dia memang layak untuk ditangisi kepergiannya”.

Itulah riwayat Khalid bin Walid dalam memperjuangkan Islam. Khalid memang tidak dikenal sebagai ahli ilmu. Akan tetapi keahliannya dalam strategi perang sangatlah membantu perjuangan Islam. Mudah-mudahan Allah meridhai Khalid bin Walid.