Search
Wednesday 28 June 2017
  • :
  • :

Itik Manila

Itik Manila

Itik manila memiliki banyak nama, yaitu Itik serati, bebek manila, itik surati, menthok ataupun entog dan nama latinnya adalah Cairina moschata. Itik manila merupakan sejenis burung atau unggas yang berada dalam keluarga bebek (Anatidae) yang banyak dipelihara manusia untuk diambil daging, telur dan bulunya. Orang Jawa seringkali memberi nama menthog, sedangkan orang sunda memberi nama entog. Itik manila yang masih kecil sering disebut minthi oleh orang Jawa. Itik manila dalam Bahasa Inggris sering disebut Barbary Duck atau Muscovy Duck.

Itik ManilaItik Serati yang hidup di Indonesia hampir seluruhnya merupakan hewan peliharaan. Biasanya orang Indonesia lebih banyak mengambil dagingnya. Binatang ini berasal dari Amerika Tengah, Meksiko, dan Amerika Selatan. Binatang ini biasanya hidup liar dan alami di rawa-rawa berhutan, juga hidup di wilayah sungai, danau ataupun pada hilir lembah sungai Grande di Texas. Populasi liar itik serati ini juga banyak dijumpai di Florida bagian selatan.

Menthok dan bebek terkadang sengaja dikawinsilangkan. Hasil kawin silang antara bebek dan menthok biasanya disebuy tiktok, yaitu kepanjangan dari itik dan menthok, sementara itu hasil kawin silang antara entok dan bebek disebut tongki.

Menthok memiliki ukuran sedang sampai besar. Panjang menthok jantan liar dari ujung ekor sampai ujung paruh bisa mencapai 86 cm. Beratnya bisa mencapai 3 kg. Ukuran menthok betina lebih kecil, dengan panjang mencapai 64 cm dan beratnya hanya mencapai 1,3 kg. Sementara itu menthok yang dipelihara manusia memiliki ukuran yang lebih besar. Hal ini disebabkan makanannya lebih teratur dan lebih sedikit bergerak. Menthok betina peliharaan bisa mencapai 5 kg sedangkan yang jantan bisa mencapai 7 kg.

Menthok memiliki warna dominan putih dan hitam, selain itu menthok juga mempunyai tonjolan kulit yang berwarna merah dan hitam yang ada di sekitar wajah dan mata. Paruh pada menthok bentuknya gemuk dan pendek seperti paruh bebek, warnanya putih kemerahan, sementara kakinya gemuk dan pendek, memiliki selaput renang, serta warnanya abu-abu kehitaman. Ekor menthok bentuknya pipih dan datar serta lebar.

Kebiasaan

Meskipun memiliki keahlian terbang, menthok yang dipelihara manusia jarang sekali terbang jauh. Itik serati ini seringkali berjalan bersama-sama kelompoknya, dengan jalan pelan-pelan dan tidak pernah tergesa-gesa. Ketika berjalan ekornya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk memberikan keseimbangan pada tubuhnya sehingga terkesan lucu. Dalam Bahasa jawa, gerakan ke kiri dan ke kanan pada menthok ini disebut megal-megol.

Menthok liar ketika masih hidup di alam bebas, tidurnya di atas cabang-cabang pohon. Ketika sudah dipelihara manusia, menthok ini tidur di atas tanah. Di daerah pedesaan pulau Jawa, orang jarang menyiapkan kandang untuk menthok, mereka dibiarkan bebas berkeliaran di sekitar rumah. Menthok peliharaan ini sering mencari makanan sendiri di perairan, sawah, kolam, saluran air atau tempat-tempat lain yang mengandung hewan-hewan kecil ataupun tumbuhan yang disukai. Makanan yang dimakannya bisa berupa ikan-ikan kecil, keong kecil, cacing, serangga, kepiting (yuyu) , pucuk-pucuk tumbuhan dan lain-lain. Peternak menthok seringkali memberikan makanan berupa bekatul (dedak) yang dicampur air, sentrat serta sisa-sisa makanan.

Itik manila ini suaranya tidak berisik sebagaimana bebek petelur. Mereka hanya mengeluarkan suara desahan atau desisan. Menthok betina biasanya mengeluarkan suara ini ketika berjalan, sementara Menthok jantan suara desisannya sedikit lebih keras sambil menggerakkan kepalanya ke depan dan belakang (dalam Bahasa jawa disebut nyosor), untuk menakut-nakuti para pengganggunya.

Menthok betina bertelur kira-kira 10 butir dan dierami hingga 5 minggu. Telur-telur yang sudah menetas ini (disebut minthi) diasuh oleh induknya. Biasanya maksimal 3 hari setelah menetas, induk betina mengajaknya berjalan-jalan. Terkadang langsung diajak masuk ke dalam air. Minthi yang masih kecil ini bisa langsung berenang tanpa harus diajari.

Kerabat Terdekat

Menthok liar yang ada di Indonesia adalah menthok rimba (Cairina scutulata). Menthok rimba ini meyebar di berbagai area di Asia, mulai dari India dan sebagaian besar Asia Tenggara hingga Sumatera dan Jawa. Saat ini populasi menthok rimba terancam punah. Adanya perburuan liar serta perubahan habitat hutan yang berubah menjadi perumahan ataupun area pertanian sangat mengurangi jumlah menthok rimba ini. Di pulau Jawa diperkirakan hewan ini sudah punah.

Masakan

Daging menthok sangat disukai orang, baik orang desa maupun kota. Rasanya sangat kuat dan tidak berbau dibandingkan daging bebek menyebabkan daging menthok ini disukai banyak orang disamping daging ayam. Bahkan harganya lebih mahal dibandingkan dengan daging ayam.

Berbagai macam masakan menthok ini telah banyak dibuat orang. Salah satu cara memasak yang paling sederhana adalah dengan membakarnya dengan diberi sedikit bawang putih, garam dan dilengkapi sambal jeruk nipis ataupun sambal tomat hijau.

Orang Kudus membuat masakan sweeke enthok, sementara orang Indramayu membuat masakan yang namanya masakan pedesan entog. Di daerah Banyumas dan Tambak, dibuat masakan sate bebek dan gule bebek, padahal sebenarnya daging yang dipakai adalah daging menthok. Selain itu pecel bebek atau bebek goreng yang ada di warung Lamongan sebenarnya menggunakan daging menthok. Sementara itu dari daerah Tegal dikenal dengan istilah kupat blengong. Ketupat blengong ini manggunakan daging brati atau blengong yang merupakan hewan hasil persilangan antara menthok dengan bebek petelur.

Telur menthok juga dikonsumsi oleh manusia, meskipun tidak sebanyak telur dari itik petelur. Bulu-bulu sayap menthok seringkali dijadikan kok untuk bulutangkis. Biasanya bulu-bulu sayap ini dicabut ketika menthok masih hidup. Setelah 3 bulan bulu bisa dicabut lagi. Sementara bulu-bulu yang ada di badan yang ukurannya kecil-kecil bisa dijadikan sebagai bahan kerajinan, misalnya kemoceng.